Wednesday, June 3, 2009

REFRESHING MY MIND

REFRESHING MY MIND

Setelah 8 bulan berlalu, tidak terasa 4 bulan lagi aku akan naik ke kelas sebelas SMA. Itu berarti tugasku akan menjadi lebih berat dan umurku menjadi 1 tahun lebih tua. Ya… memang harus begitu hidup ini. Terus bertambah dan bertambah. Wali kelasku bertambah galak dan orang tuaku juga bertambah cerewetnya. Aku ndisuruh belajar, belajar, danbelajar terus. Les matematika lah, les fisika lah, les bahasa Inggris lah, sampai pusing aku dibuatnya. Apalagi sekarang aku harus berangkat lebih pagi lagi karena masuk jam 06.30 dan itu bearti mengurangi waktu tidurku. Ugh…capek banget rasanya sekolah. Aku pingin sesuatu yang berbeda!!!
Hari ini aku berangkat pagi jam 5 dari rumah karena rumahku di Cibubur. Kalau tidak berangkat jam segitu, pasti deh aku telat dan aku ndisuruh pulang oleh guru BK ku. Sambil terkantuk-kantuk di mobil aku bermimpi aku di suatu tempat yang enak banget danb aku bermain dengan teman-temanku. Hey… bangun, bangun, udah sampe nih. Yah, ternyata temanku membangunkan aku, sudah selesai deh mimpi indahku. Aku turun dari mobil jemputanku dan aku masuk kelasku yang sudah duduk beberapa temanku.
Hari ini hari senin, itu artinya jam pertama adalah wali kelasku masuk jam pertama. Ugh, sebel deh. Pasti ditanya bagaimana nilai-nilaiku dalam seminggu ini. Apalagi aku juga belum memperbaiki nilai-nilaiku yang belum tuntas. Pasti aku nanti yang dipanggil pertama kali. Aku harus mencari alasan yang tepat jika wali kelasku menanyakan nilaiku. Jam 06.30 tepat dan wali kelasku datang dengan muka serius dan sangar. Menakutkan…hiii. “Assalaamualaikum.” Aku dan teman-temanku menjawab ‘wa alaikum salam”. “ Apa kabar? Mudah-mudahan sehat semua ya”. Dalam hatiku, tumben agak ramah, pasti ada maunya nih wali kelasku, pikiran negatif mulai menyerangku. “Ibu ada ide nih, apakah kalian mau mendengarkan?, tanya guruku yang sebenarnya cantik tapi agak judes mukanya ini. “Mau!!!’, ramai-ramai temanku menjawab dengan semangat. “Begini, Ibu punya ide apakah kalian mau refreshing ke tempat dimana kalian bisa bermain sepuas kalian?” “Mau!!!”, dengan semangat yang membara kami menjawab. Senyum mulai mengembang di mukaku. “Mau kemana ya kira-kira?” “ke Anyer Bu”. “ke Puncak”. “ok, ok, Ayo, sekarang kalian buat program bermain, kita disana tidak boleh belajar, boleh bermain sepuas kalian, bagaimana?” “Wow, ok banget nih”, celoteh si Ria yang memang demen main tapi nilainya hancur-hancuran. Eh, aku juga sempat melirik teman-temanku yang memang pintar dan jenius kebingungan. Pikiran mereka memang hanya belajar, belajar, dan nilainya bagus semua. Aku sendiri yang notabene nilai pas-pasan juga agak terkaget-kaget dengan ide guruku yang agak nyleneh ini. Tapi dari lubuk hatiku yang terdalam aku senang sekali, hatiku berbunga-bunga karena impianku pagi tadi ternyata menjadi kenyataan.
Hari yang ditunggu datang. Dengan tas kecil yang berisi 2 potong baju, aku menuju ke rombongan teman-temanku. Ya…, hari ini kita akan pergi ke Sukabumi.Setelah satu jam perjalananan, kami sampai ke sebuah villa yang lumayan lengkap fasilitasnya, ada kolam renang yang bersih, lapangan futsal, lapangan basket, bola ping pong dan masih banyak lagi. Wow…that’s really great. Sampai sana, langsung kita jalan-jalan sebentar, terus main basket dengan teman-temanku, setelah itu berenang dan main-main di kolam renang, terus…terus…terus main dan main terus. Aku menikmati hari itu sepuasku.
Sampailah sholat Maghrib. Guruku yang galak datang lagi nih. “Yuk, kita sholat Maghrib dulu, nanti mainnya diteruskan ya.” Guruku ini memang lucu, kadang galak, kadang lucu seperti anak kecil, dan kadang juga menyebaikan. Ok, kita sholat Maghrib bersama.
Malam menjelang. Guruku mengajak kami semua untuk berkumpul. “Anak-anak, kita hari ini berkumpul, pertama untuk refreshing dan kedua Ibu akan umumkan bahwa kemungkinan ada teman-teman kita yang akan tinggal kelas. Jadi acara ini kita buat juga untuk perpisahan dengan teman-teman yang tidak naik kelas, karena Ibu lihat tidak ada perubahan dalam pola belajarnya. Hidup ini pilihan, kalian diberikan pilihan yang terbaik untuk kalian sendiri, hidup kalian dan masa depan kalian. Jika kalian memilih untuk tinggal kelas itu artinya menurut kalian itu yang terbaik untuk kalian. Ibu adalah orang lain yang mempunyai tugas untuk membimbing kalian dengan harapan kalian bisa meningkatkan diri kalian dan juga meningkatkan prestasi kalian. Orang tua kalian juga hanya bisa mendukung dengan berbagai fasilitas, tetapi yang manjalani kalian sendiri. Sekarang kalian boleh merenung dan merenung, bagaimana dengan hidup kalian selama ini dan bagaimana hidup kalian nanti 15 tahun yang akan datang.”
“mmm…. Iya ya benar juga kata guru kita ini. Kita bukan tergantung orang lain terus selama hidup kita ini. Kita harus mandiri dan mau tidak mau kita harus sadar bahwa belajar ini adalah untuk kita sendiri, bukan untuk orang lain, “kata ketua kelas sambil mukanya berpikir keras.”Ayo, kita berjanji untuk diri sendiri bahwa kita bisa naik kelas semua dan kita harus berprestasi,”ajak ketua kelas lagi.
Sudah 1 minggu belajar di kelas dan kelas menjadi lebih serius belajar. Kami sadar sekarang waktunya untuk bangkit dan bangun dari tidur yang panjang. Kami ingin berubah menjadi seorang yang lebih baik dan lebih baik sepanjang hidup kami. Kami tinggalkan masa lalu dan kami jelang kehidupan belajar yang lebih menyenangkan…

Wednesday, May 6, 2009

Menjadi Guru Profesional

“Menjadi guru?” Itulah kata-kata yang diucapkan oleh salah satu anak didik saya dengan nada heran bahkan mencibir pada saat saya sedang menjelaskan kepada mereka tentang karir masa depan. Dalam hati, saya dulu juga seperti murid saya pada saat saya masih duduk di bangku SMA 15 tahun yang lalu. Jika bisa jangan jadi guru, jika bisa yang lain, pikir saya saat itu.

Tetapi itu dulu. Sekarang saya bangga menjadi guru. Dalam kurun waktu 6,5 tahun, saya sudah diproses Tuhan untuk bisa mencoba menjadi guru Bahasa Inggris yang mulai mencintai dunia pendidikan. Saya mengajar dari TK sampai SMA dengan dunia-dunia yang sangat menakjubkan saya bahwa mendidik anak adalah bagian hidup saya yang sangat penuh dengan dinamika. Kadang-kadang sedih melihat anak didik saya tidak bisa mengerjakan apa yang saya ajarkan dan senang pada saat melihat anak didik sudah lulus ataupun kuliah di perguruan tinggi. Tingkah polah mereka memberikan warna dalam hidup saya dengan kesedihan, senyuman dan kegembiraan.

Menjadi guru profesional adalah cita-cita saya dan mungkin akan menjadi cita-cita semua guru di dunia jika kita semua paham akan makna apa itu guru profesional, bagaimana menjadi guru profesional, dan untuk apa menjadi guru profesional. Guru professional tidaklah sekedar harga yang harus dibayar dengan uang, tetapi sungguh dalam makna di balik keprofesionalan seorang guru dimana nantinya seorang guru harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan apa yang telah diajarkan kepada anak-anak didiknya.

Terdapat tujuh hal yang sering dilakukan oleh guru yaitu (1) tidak mau membuat perencanaan pembelajaran yang efektif dan efisien, (2) guru tidak memberikan nasihat sebelum siswa berperilaku negative,(3) melakukan disiplin yang otoriter, (4) menyamakan kemampuan peserta didik, (5) guru merasa paling pandai sehingga tidak mau belajar lagi, (6) melakukan diskriminasi terhadap anak didik, dan (7) memaksa hak peserta didik untuk memiliki pendapat yang sama. Ketujuh hal ini merupakan kesalahan yang sangat sering dilakukan oleh guru yang seharusnya tidak dilakukan oleh guru apalagi guru profesional

Sebagai guru yang memiliki peran kompleks baik kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, guru dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh oleh guru dalam mencapai pembelajaran yang diinginkan. Beberapa diantaranya adalah menggunakan keterampilan bertanya kepada peserta didik, memberikan variasi model pembelajaran, menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti oleh siswa, dan guru dapat membimbing siswa dalam diskusi yang menarik.

Selain hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam rangka menjadi guru profesional, ada 1 hal yang sampai sekarang masih sulit dilakukan oleh guru karena berbagai alasan, beberapa diantaranya adalah keterbatasan waktu dan biaya. Satu hal tersebut adalah, guru wajib melaksanakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini harus dilakukan oleh guru dalam rangka mengetahui apakah ada kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik dalam belajar. Jika memang terdapat kesulitan, melalui penelitian tindakan kelas inilah, guru dapat menemukan cara bagaimana mengatasi kesulitan belajar tersebut sehingga akan tercapai PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan).

Yang terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah menjadi guru yang profesional dapat diartikan sebagai guru yang dapat mengembangkan kecerdasan emosinya dan spiritualnya, dapat mengembangkan kreatifitas dalam pembelajaran, guru yang dapat mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang, dan guru yang dapat meningkatkan kualitas dirinya dan kualitas peserta didiknya.

Yang terakhir dan tidak kurang pentingnya adalah menjadi guru adalah suatu profesi dimana terdapat tanggungjawab atas diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan yang paling penting adalah kepada Tuhan yang Maha Esa.

ANALISA KONTRASTIF PENGANDAIAN BAHASA INDONESIA  DENGAN BAHASA INGGRIS

PENDAHULUAN
Analisa kontrastif ádalah analisa yang digunakan dalam mencari suatu perbedaan yang sering membuat pembelajar bahasa kedua mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi bahasa.[1] Dengan adanya analisa kontrastif ini diharapkan dapat memahami bahasa kedua atau bahasa asing dengan lebih mudah.

Pada dasarnya analisa kontrastif dapat dibedakan dalam beberapa bagian. Secara gramatikal atau struktural, dan sintaksis. Untuk analisa gramatikal yaitu analisa yang berdasar pada tata bahasa dari masing-masing bahasa pertama dan kedua, analisa sintaksis adalah analisa yang berdasar pada asal kata atau bagaimana memaknai statu bahasa dan analisa pragmatik adalah analisa yang berdasar pada penggunaan bahasa tersebut baik secara formal maupun informal.

Dengan adanya analisa tersebut diatas diharapkan pengajar ataupun pembelajar bahasa dapat lebih mudah dalam belajar bahasa dan tidak mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan bahasa yang dipelajari.

Dengan adanya tulisan ini, diharapkan penulis dapat lebih memahami tentang manfaat analisa kontrastif dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam mengajar bahasa Inggris. Selain itu, diharapkan para pembaca dapat memanfaatkan tulisan ini sebagai bahan bacaan untuk meminimalisasi perbedaan yang terjadi dan bagaimana memahami salah satu aspek bahasa kedua atau bahasa asing dengan lebih mudah.

A. Latar Belakang
Berdasar pada kurikulum KTSP 2006, pengajaran Bahasa Inggris untuk SMA mencakup 4 keterampilan bahasa yaitu menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).[2] Untuk pengajaran tata bahasa atau grammar tidak secara tersurat tercakup dalam kurikulum tersebut. Meskipun demikian, pengajaran grammar menjadi suatu kesatuan dalam pengajaran keempat keterampilan bahasa seperti yang telah tertulis di atas.

Pengajaran Bahasa Inggris tidak lepas dari pengajaran tata bahasa atau disebut juga dengan grammar. Meskipun terkadang menjadi polemik bagi pengajar apakah masih perlu mengajar tata bahasa pada aspek pengajaran bahasa Inggris. Dengan kesan yang monoton, pengajaran grammar ini menjadi tidak menarik, baik bagi siswa maupun guru. Beberapa guru mencoba dengan berbagai teknik dalam pengajaran grammar ini, tetapi masih saja mengalami kesulitan dalam memberi pemahaman kepada siswa.

Salah satu materi grammar yang sangat sulit dipahami oleh siswa adalah pengandaian (conditional sentence). Dari sekolah dasar, siswa telah diajarkan pengandaian ini dan terus berulang sampai mereka menapak jenjang sekolah menengah atas dengan derajat dan tingkat yang lebih tinggi. Guru harus mengulang setiap mengajarkan pengandaian di tingkat awal setiap kali akan mengajarkan pensyaratan di tingkat lebih tinggi. Demikian kejadian ini terus berulang. Mengapa terjadi demikian?
Dalam makalah ini diulas dan akan diteliti penyebab terjadinya kesulitan belajar dalam memahami grammar khususnya pengandaian atau conditional sentence Bahasa Inggris sebagai bahasa asing dengan perbandingan pengandaian di dalam Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. Dengan demikian diharapkan akan memberikan suatu kemudahan dalam mengajar dan memberi pemahaman tentang pengandaian atau conditional sentence Bahasa Inggris di dalam kelas dan berdampak pada pemanfaatan bahasa asing untuk komunikasi baik lisan maupun tertulis.

B. Masalah Penelitian
Penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
(1) Bagaimana kalimat pengandaian dalam Bahasa Indonesia?
(2) Bagaimana kalimat pengandaian dalam Bahasa Inggris?
(3) Bagaimana perbandingan kalimat pengandaian dalam Bahasa
Indonesia dan Bahasa Inggris?

C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi kajian penelitian dengan berfokus pada kalimat-kalimat yang ada dalam buku Understanding and Using English Grammar karangan Betty Schrampfer Azar dan Penggunaan Preposisi dan Konjungsi dalam Bahasa Indonesia karangan Abdul Chaer serta Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf.

D. Perumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana tingkat perbandingan kalimat pengandaian pada bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat perbandingan kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat dijadikan acuan bagi pengajaran Bahasa Inggris pada umumnya dan khususnya berkaitan dengan kalimat pengandaian. Manfaat yang dimaksud adalah:
Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan model penelitian guna meningkatkan keterampilan berbahasa, khususnya yang berkaitan dengan kalimat pengandaian dalam bahasa Inggris.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan acuan oleh pengajar bahasa dalam menentukan model pemecahan masalah yang berkaitan dengan pengajaran di kelas, khususnya kalimat pengandaian.

3. Penelitian ini diharapkan pula dapat membuka wawasan penulis dan mahasiswa lain pada pengetahuan Bahasa Inggris khususnya tentang kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan ilmu pendidikan bahasa terutama pada aspek pengajaran grammar atau tata bahasa khususnya kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Landasan Teori

A. Analisis Kontrastif
Prinsip-Prinsip Dasar Analisis Kontrastif
Menurut Halliday terdapat dua prinsip pada analisis kontrastif, yaitu memerikan sebelum membandingkan dan membandingkan pola-pola tertentu dan bukan bahasa secara keseluruhan.

Pada prinsip pertama kita tidak dapat membandingkan cara kerja sejumlah bahasa sebelum kita memerikan cara kerja masing–masing bahasa itu. Jika kita ingin menggunakan bahasa ibu sebagai bahan perbandingan dalam mempelajari bahasa asing, kita tidak cukup hanya bisa berbahasa ibu tetapi kita juga harus menguasai bahasa yang akan kita bandingkan itu.

Pada prinsip kedua, kita tidak dapat membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris secara keseluruhan. Yang dapat diperbandingkan adalah salah satu atau beberapa unsur atau pola yang terdapat pada masing-masing bahasa pengandaian yang dibandingkan. Dan kita tidak dapat menarik kesimpulan dari kedua perbandingan ini karena setiap pola perbandingan dibahas secara terpisah. Hal ini sesuai dengan penelitian ini, yang membandingkan kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. [3]

Tahap-Tahap Analisis Kontrastif

Dalam setiap perbandingan kita mengikuti tiga tahapan Anakon berikut ini:

a. Mendeskripsikan ciri-ciri yang akan diperbandingkan dari masing-masing bahasa, yaitu memaparkan pokok bahasan secara menyeluruh yang mencakup hal arti, fungsi dan atribut dari ciri-ciri tersebut.[4]

b.Memastikan bahwa ciri-ciri tersebut dapat dibandingkan. Untuk itu sebelumnya harus dapat diperlihatkan padanan kontekstualnya yang memungkinkan ciri itu dapat dibandingkan. Tetapi bila padanan struktur itu tidak muncul dalam terjemahan maka ciri-ciri itu tidak perlu diperbandingkan.[5]

c. Setelah ciri-ciri yang akan diperbandingkan dipaparkan atau dideskripsikan dan telah jelas bahwa ciri itu dapat diperbandingkan maka langkah selanjutnya adalah membandingkan ciri-ciri dari kedua bahasa itu dengan melihat persamaan dan perbedaan didalamnya.

B.Pengandaian dalam Bahasa Indonesia
Menurut Gorys Keraf, pengandaian dalam bahasa Indonesia ditandai dengan adanya kata penghubung atau conjunction yaitu jika, andaikata, asal, asalkan, jikalau, sekiranya, dan seandainya.[6]

Terdapat dua makna pengandaian di dalam bahasa Indonesia, yaitu sebagai persyaratan dan pengandaian. Pengandaian mempunyai makna syarat bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Secara jelas hubungan ini ditandai dengan kata penghubung jika, apabila, kalau, asalkan, asal, manakala dan jikalau. Sebagai contoh adalah kalimat berikut ini:

(1) Kemauan untuk hidup ini akan ada jika di dalam diri seseorang ada perasaan bahwa dia dibutuhkan oleh lingkungannya.
Kalimat diatas terdiri dari tiga klausa yaitu 1) kemauan untuk hidup ini akan ada sebagai klausa inti , 2) di dalam diri seseorang ada perasaan, 3) dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Klausa 2 dan kausa 3 merupakan klausa bawahan yang menyatakan ‘syarat’ bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti.
Contoh pada kalimat lain adalah:

(2) Apabila hal itu terjadi juga, aku akan mencelanya di depan siapa saja tanpa mempedulikan kesopanan bahasa.

(3) Aku hanya dapat berjumpa dengan mereka pada waktu-waktu libur sekolah atau pada hari Sabtu dan Minggu bila mereka tidak mendapat hukuman.

(4) Bilamana hujan turun agak lebat, daerah itu tentu tergenang air.

(5) Jikalau aku dapat lulus dari SMA, aku akan melanjutkan pelajaranku ke Fakultas Sastra.

Hubungan makna pensyaratan sebagai pengandaian terjadi apabila klausa bawahan menyatakan suatu andaian, suatu syarat yang tidak mungkin terlaksana bagi klausa inti sehingga apa yang dinyatakan oleh klausa inti juga tidak mungkin terlaksana. Pengandaian ini ditandai dengan adanya kata-kata seperti andaikan, andaikata, seandainya, sekiranya, dan seumpama.

Beberapa kalimat di bawah ini merupakan contoh dari kalimat pensyaratan yang merupakan pengandaian dalam bahasa Indonesia.

(1) Andaikan gadis itu tidak suka padamu, engkau harus menjamin dia kecuali bila ia berkeberatan.

(2) Andaikata nona maju ke pengadilan, tentu perkara ini akan disidangkan dan tentu perhatian pers dan publik yang sudah mereda itu akan hangat kembali.

(3) Seandainya engkau tidak hadir malam itu, kami tidak akan mendapat uang sedemikian banyaknya.

(4) Aku tidak dapat memikirkan apa yang akan terjadi seumpama dia tidak ada disana.

Ditambahkan menurut Abdul Chaer, konjungsi andaikata mempunyai fungsi untuk menggabungkan menyatakan syarat untuk diandaikan di depan klausa yang menjadi anak kalimat dari suatu kalimat majemuk bertingkat.[7]
Contoh :
1. Andaikata kamu tidak datang, saya akan menggantikan kamu memimpin rapat ini.
2. Saya akan membelikan kamu sebuah mobil baru andaikata saya Menang lotre 100 juta.
3. Generasi mendatang tidak akan mengenal cómodo andaikata binatang langka itu tidak dilindungi.
Secara fungsional andaikata sama dengan kata penghubung kalau dan jika, tetapi secara semantik berbeda. Kalau dan jika menyatakan syarat yang harus dipenuhi sedangkan andaikata menyatakan syarat yang diandaikan dan tidak selalu dipenuhi.
Secara agak bebas dapat digunakan kata penghubung andaikan dan seandainya dengan fungsi dan arti yang sama dengan kata penghubung andaikata.
C. Pengandaian dalam Bahasa Inggris

Dalam Bahasa Inggris, menurut Azar, pengandaian atau disebut juga dengan Conditional Sentence memiliki tiga macam, yaitu 1) pengandaian yang digunakan untuk kejadian benar pada masa kini atau masa yang akan datang, 2) pengandaian yang tidak benar di masa kini atau masa datang, 3) pengandaian yang tidak benar di masa lalu. Penggunaan pengandaian ini memiliki penggunaan dan syarat-syarat tertentu.[8]

1. Pengandaian yang digunakan untuk kejadian benar pada masa kini dan masa akan datang
Terdapat syarat-syarat dalam menggunakan pengandaian jenis ini, yaitu:

a. Kalimat pengandaian jenis ini digunakan untuk mengandaikan kegiatan rutin atau pada situasi yang rutin.

b. Digunakan untuk memperkirakan falta yang akan terjadi di masa kini atau masa akan datang.

c. Menggunakan bentuk simple present yakni:

If + subyek +kata kerja 1+obyek, subyek +will + kata verja 1
Contoh :

If I don’t eat breakfast, I will always get hungry during class
(Jika saya tidak makan pagi, saya akan lapar selama ada di kelas).

If the weather is nice tomorrow, we will go on a picnic.
(Jika cuaca cerah besok, kita akan pergi bertamasya).

2. Pengandaian yang digunakan untuk kejadian yang tidak terjadi pada saat kini dan masa akan datang.

Kalimat Pengandaian ini digunakan untuk mengekspresikan bahwa sesuatu terjadi dengan sebaliknya atau berlawanan dengan kenyataannya dan digunakan pada masa kini dan akan datang.

Bentuk dari kalimat pengandaian ini adalah:

If + subyek+kata kerja 2, subyek+would+kata kerja 1
Contoh kalimat:

If I taught this class, I wouldn’t give tests.
(Jika saya mengajar kelas ini, saya tidak akan memebrikan tes, kenyataannya saya tidak mengajar kelas ini).

If I were you, I would accept their invitation.
( Jika saya menjadi anda, saya akan menerima undangan itu , kenyataannya adalah saya bukanlah anda sehingga saya tidak menerima undangan itu).

3. Pengandaian yang digunakan untuk kejadian yang tidak benar (berlawanan dengan kenyataan) di masa lalu.

Kalimat ini digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lampau. Rumus kalimat ini adalah :

If +subyek +had + kata kerja 3, subyek+ would+have+kata kerja 3
Contoh dalam kalimat adalah:

If you had told me about the problem, I would have helped you.
(jika anda mengatakan masalah itu, saya akan membantu anda, kenyataannya bahwa anda tidak mengatakan masalah itu dan saya tidak akan membantu anda).

If they had studied, they would have passed the exam.
(jika mereka belajar, mereka akan lulus ujian itu, kenyataannya bahwa mereka tidak belajar dan mereka tidak lulus ujian).

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Khusus Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang perbandingan kalimat pengandaian pada bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

B. Obyek Penelitian
Contoh kalimat bahasa Inggris dalam buku Understanding and Using English Grammar karangan Betty Schrampfer Azar dan dipadankan dengan Penggunaan Preposisi dan Konjungsi dalam Bahasa Indonesia karangan Abdul Chaer serta Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf.

C. Fokus dan Sub Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada kalimat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang mengandung pengandaian. Sub fokus pada penelitian ini adalah:
1. Pengandaian pada bahasa Indonesia
2. Pengandaian pada bahasa Inggris
3. Perbandingan pengandaian pada bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

D. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan kualitatif dengan teknik analisis descriptive analysis dengan pendekatan analisis kontrastif.

E. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini tidak terikat dengan tempat khusus karena penelitian ini adalah content anlaysis. Waktu penelitian adalah 24 November 2007.

F. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa proses. Pertama, membaca buku tata bahasa Indonesia dan Enlish Grammar. Kedua, membaca buku, data internet, jurnal, yang berhubungan dengan obyek penelitian terutama yang berhubungan dengan kalimat pengandaian. Demikian juga dengan buku sintaksis dan analisis kontrastif yang menjelaskan tentang kalimat pengandaian di bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

G. Teknik Analisis Data
Data dianalisis secara kualitatif. Langkah-langkah yang dilakukan adalah mencakup:
i. pengumpulan data
ii. reduksi data
iii. penafsiran data
iv. penarikan kesimpulan

METODOLOGI PENELITIA

Analisa Kontrastif Pengandaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam Perspektif Struktural
Secara struktural, kalimat pengandaian memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah terdapat pada kata-kata khusus yang digunakan dalam kalimat pengandaian sedangkan perbedaannya adalah dalam bahasa Indonesia hanya terdapat satu jenis pengandaian dan dalam bahasa Inggris terdapat tiga macam pengandaian yang sangat bergantung pada waktu pengucapan.

Pengandaian dalam Bahasa Indonesia hanya memiliki satu syarat dalam pembuatan kalimatnya. Secara tata bahasa Bahasa Indonesia hanya menggunakan kata-kata jika, seandainya, andaikata, jikalau, sekiranya, asalkan, apabila, dan manakala. Dalam bahasa Inggris kata-kata di atas hanya ditandai dengan adanya kata ’if’ yang memiliki arti yang sama dengan kata ’jika’ atau ’seandainya’. Jadi terdapat persamaan kalimat pengandaian dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yaitu dengan adanya kata khusus yang digunakan dalam kalimat pengandaian ini, dalam Bahasa Indonesia menggunakan jika, seandainya, seumpama, dan apabila, sedangkan dalam Bahasa Inggris menggunakan kata’if’ dalam membuat kalimat pengandaian ini.
Perbedaannya adalah dalam Bahasa Indonesia tidak mengenal perbedaan waktu pengucapan. Seperti contoh berikut ini:

Saya akan membelikan mobil baru jika saya dapat lotere 100 juta.

Kalimat pengandaian diatas ini diucapkan sama meskipun kalimat ini diucapkan sekarang (present), masa depan (future), ataupun masa lalu (past).

Dalam bahasa Inggris kalimat diatas harus dilihat waktu dalam mengucapkannya.

I will buy a new car for you, if I get lottery 100 millions (sekarang dan masa depan, tetapi hal ini merupakan kejadian yang benarbenar terjadi).

I would have bought a new car for you, if I had got a lottery 100 millions. ( masa lalu, kejadian ini adalah tidak benar terjadi di masa lalu).
Dengan contoh diatas terlihat bahwa terdapat perbedaan dalam menggunakan kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan dalam Bahasa Inggris.
Meskipun demikian terdapat perbedaan dalam penggunaan kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Yaitu berhubungan dengan masalah waktu. Dalam bahasa Indonesia, tidak mengena adanya waktu pemakaian.semuanya sama meskipun digunakan dalam masa kini, masa depan, maupun masa lalu.tidak terdapat perubahan dalam kata kerjanya. Jika terjadi perubahan waktu maka kalimat pengandaiannya akan ditambahkan kata keterangan waktu. Sebagai misal adalah:

Jikalau aku dapat lulus dari SMA tahun depan, aku akan melanjutkan pelajaranku ke Fakultas Sastra.

Maka Bahasa Inggrisnya adalah:

If I graduate from senior high school next year, I will continue my study to literature faculty.

Jika waktu pengucapannya diubah pada masa lalu maka terjadi perubahan pada kalimatnya, menjadi:

Jikalau aku dapat lulus dari SMA tahun lalu, aku akan melanjutkan pelajaranku ke Fakultas Sastra.

Maka bahasa Inggrisnya adalah:

If I graduated from senior high school last year, I would continue my study to literature faculty.

Perubahan yang terjadi adalah perubahan kata kerja yaitu:
Lulus tahun depan : graduate
Lulus tahun lalu : graduated
Perubahan yang kedua adalah adanya perubahan will (masa depan) menjadi would (masa lalu).

KESIMPULAN

Seperti dalam bahasa Indonesia, Bahasa Inggris pun terdapat kalimat pengandaian. Kalimat pengandaian ini digunakan untuk mengutarakan suatu kejadian yang tidak terjadi dalam kenyataannya.

Setelah dianalisis dan dicari padanan dan perbandingannya dalam kalimat pengandaian dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, penulis telah menemukan persamaan dan perbedaan yang ada. Baik persamaan maupun perbedaannya dapat dilihat secara struktural maupun secara pragmatis.

Secara struktural terdapat persamaan kalimat pengandaian dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yaitu dengan adanya kata khusus yang digunakan dalam kalimat pengandaian ini, dalam Bahasa Indonesia menggunakan jika, seandainya, seumpama, dan apabila, sedangkan dalam Bahasa Inggris menggunakan kata’if’ dalam membuat kalimat pengandaian ini. Sedangkan perbedaannya adalah dalam Bahasa Indonesia tidak mengenal perbedaan waktu pengucapan. Kalimat pengandaian diatas ini diucapkan sama meskipun kalimat ini diucapkan sekarang (present), masa depan (future), ataupun masa lalu (past). Dikarenakan perbedaan waktu maka kata kerja yang digunakan dalam masing-masing tenses berbeda, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada perbedaan kata kerja.

Daftar Pustaka

Azar, Betty Schrampfer. Understanding and Using English Grammar. Jakarta,
Binarupa Aksara, 1993
Chaer, Abdul, Penggunaan Preposisi dan Konjungsi dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta, IKIP. 1984
Halliday, M.A.K.The Linguistic Sciences and Language Teaching.
Bloomington:Indiana University Press, 1970.
James, Carl. Errors in Language Learning and Use. England:Longman, 1998
Keraf , Gorys. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah, 1991
KTSP 2006 bahasa Inggris, Departemen Pendidikan Nasional 2006.
Lado, Robert .Linguistic Across Culture. Michigan : University of Michigan Press,
1964.
[1] Carl James. Errors in Language Learning and Use. (England: Longman, 1998) hal . 1
[2] KTSP 2006 bahasa Inggris, Departemen Pendidikan Nasional 2006.
[3] M.A.K. Halliday.The Linguistic Sciences and Language Teaching. (Bloomington:Indiana University Press, 1970) hal. 113
[4] Robert Lado.Linguistic Across Culture. (Michigan : University of Michigan Press, 1964). Hal.67
[5] M.A.K. Halliday.The Linguistic Sciences and Language Teaching. (Bloomington:Indiana University Press, 1970) hal. 114
[6] Gorys Keraf. Tata Bahasa Indonesia. (Jakarta, Nusa Indah, 1991). Hal 41.
[7] Abdul Chaer.Penggunaan Preposisi dan Konjungsi dalam Bahasa Indonesia. Jakarta, IKIP. 1984 .hal 79-80.
[8] Betty Schrampfer Azar. Understanding and Using English Grammar. (Jakarta, Binarupa Aksara, 1993). Hal 347-349.

Saturday, January 24, 2009

Teddy Bear Project.

The students will have a visit from a friend from Taiwan. Here are their preparation.

----
@ my english www.kursus-inggris.com

Friday, January 23, 2009

Get Start To Learn

This book is very useful for preparing student in academic succes.


----
Kursus Bahasa Inggris 'my english' @ private @ groups @ in house training
Tlp. 0811.968.0678 / 021.420.5185

www.kursus-inggris.com


Peer Learning

PEER LEARNING,
SEBUAH ALTERNATIF GURU DALAM MENGOPTIMALKAN POTENSI SISWA
Nur Arifah Drajati-SMA Labschool

Banyak jalan menuju Roma, demikian juga banyak cara mendidik siswa. Peer learning atau disebut juga dengan belajar bersama dengan teman sebaya adalah salah satunya. Beberapa kelebihan dapat diambil dari aktifitas ini.

Pertama adalah dari sisi siswa. Dengan belajar bersama teman, dia merasa ada teman yang dapat membantu dirinya dalam memecahkan masalahnya. Sering terjadi siswa agak atau bahkan sulit untuk mengungkapkan kesulitan yang dialaminya kepada guru yang mengajar. Hal ini dapat disebabkan salah satunya malu jika bertanya. Maka tak heran jika pada saat guru bertanya apakah ada pertanyaan setelah guru tersebut memberi penjelasan, tidak seorang murid pun yang tunjuk tangan. Malu jika dikatakan bodoh atau lemot oleh temannya yang lain. Dengan adanya belajar dengan teman sebaya maka faktor malu ini agak berkurang karena siswa merasa temannya tidak menggurui dan merasa nyaman dengan teman yang dianggap paham dengan konsep dan penjelasan atas suatu materi.

Kedua dari sisi guru. Dengan adanya belajar dengan teman sebaya akan memudahkan atau meringankan kerja guru. Terkadang siswa mengalami kesulitan dengan bahasa yang digunakan oleh guru sehingga tidak dimengerti oleh siswa tersebut. Banyak guru yang terkadang menggunakan bahasa yang terlalu tinggi bahkan dengan filosofi yang tidak dapat dijangkau oleh siswa dengan kemampuan rendah atau menengah. Bahkan terkadang juga guru menggunakan bahasa asing dan terkadang juga guru itupun tidak paham artinya. Maka dengan adanya peer learning ini diharapkan ada link atau hubungan yang sejajar dengan temannya. Disini guru diharapkan menjadi fasilitator yang dapat menjembatani adanya kekurangan komunikasi antara siswa dengan guru. Selain itu, belajar dengan model teman sebaya, guru mendapatkan gambaran jelas tentang peta kelas. Guru akan paham siswa yang mempunyai kepandaian luar biasa, menengah dan siswa yang kurang paham. Dengan demikian perlakuan atau treatment yang diberikan akan sesuai, sehingga semua siswa mencapai hasil yang optimal.

Ketiga dari sisi motivasi. Siswa yang belajar dengan teman sebaya akan lebih percaya diri untuk belajar. Dengan begitu siswa akan belajar secara mandiri secara perlahan. Kemajuan dalam belajar akan tercapai baik bagi siswa yang tertinggal maupun siswa yang membantu siswa lain dalam belajar.

Mudah mudahan bermanfaat dan selamat mencoba.

===============
@my english www.kursus-inggris.com

Pentingnya Berpikir Positif Bagi Guru

"Ibu, Ari masuk sekolah hari ini diantar papanya. Kalo begitu, saya coba cari ya Bu." Begitu sms yang diterima oleh Ibu Ani pagi itu.

Ibu Ani mengirim sms ke orang tua Ari bahwa pagi itu Ari tidak ada di kelas. Setelah beberapa jam kemudian, Ari ditemukan di warnet dekat sekolahnya.

Apa yang terjadi pada Ari dan orang tuanya bisa terjadi pada kita sebagai orang tua yang putra putrinya menginjak remaja. Mengapa pergi ke warnet menjadi pilihan Ari daripada mengikuti pelajaran di sekolahnya? Ini pertanyaan menarik yang akan kita coba kupas pada artikel ini.
Ibu Ani sudah melakukan hal yang tepat dengan sms orang tua Ari setelah melihat ke dalam kelas bahwa Ari tidak berada di dalam kelas, demikian juga dengan orangtua Ari yang langsung berusaha untuk mencari anaknya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ari?

Pada hari berikutnya, Ari dan orang tuanya datang kepada Ibu Ani dan menjelaskan permasalahan yang ada. Ari mengatakan bahwa dia tidak senang dengan perlakuan teman-temannya terhadap dirinya yang memang dianggap aneh. Ari adalah tipe anak tunggal dimana hanya dia di dalam keluarga yang paling disayang. Semua yang diingininya akan diberikan oleh orangtuanya. Di sekolah, dia mendapat perlakuan yang sangat berbeda. Dia merasa tertolak dan tidak diterima oleh teman-temannya.

Setelah tahu permasalahan yang terjadi pada Ari, Ibu Ani mengambil beberapa tindakan. Salah satunya adalah memanggil beberapa teman Ari. Setelah semua data terkumpul, Bu Ani memberi pengajaran tentang values education atau pendidikan moral yang perlu siawa pelajari. Kebetulan Bu Ani adalah seorang guru bahasa Inggris dimana beliau menggabungkan bahasa Inggris dengan values education. Beberapa diantaranya adalah saling menghormati, hidup dalam keseimbangan jiwa, tanggung jawab, dan saling peduli antar sesama.

Sejalan dengan waktu, terdapat perubahan yang terjadi di dalam kelas Ari. Ari sendiri mulai untuk merubah image dirinya yang terkadang selalu ingin disayang dengan sikap yang lebih dewasa.
Pada saat kenaikan kelas, ada pengumuman bahwa Ari akan pindah ke negara lain mengikuti kedua orang tuanya. Teman-teman Ari kaget mendengar berita tersebut dan mereka sangat sedih bahwa salah satu temannya akan meninggalkan mereka.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari kejadian ini adalah Bu Ani tetap berpikir positif bahwa Ari bisa berubah ke sikap yang lebih positif dan juga menyebarkan hal-hal positif yang sebaiknya dimiliki oleh siswa-siswa yang lain. Tidak ada kemarahan, tumbuh harmonisasi antar siswa, orang tua, dan guru.
Semoga bermanfaat.

====================
Common Errors In English http://belajar-dan-mengajar.blogspot.com/